AI generatif menjadi pemicu dari kenaikan harga ponsel di 2026 karena membutuhkan kapasitas RAM yang lebih besar.

Penggunaan AI generatif yang semakin masif mungkin akan berdampak kepada naiknya harga ponsel di 2026.
Pasalnya, kehadiran AI mendorong produsen untuk menciptakan perangkat yang memiliki daya komputasi besar, salah satunya yaitu RAM (Random Access Memory).
Melansir CNET, permintaan memori PC berkapasitas besar diketahui meningkat signifikan beberapa tahun belakangan.
Tren ini menimbulkan efek domino yang meluas ke industri smartphone dan mengganggu keseimbangan pasar.
Baca juga: Ponsel Pintar dengan Fitur AI Terbaik 2025 di Indonesia
Walaupun ukurannya lebih kecil dibandingkan PC, permintaan terhadap RAM smartphone sangat tinggi.
Oleh karena itu, para produsen RAM kewalahan dalam memenuhi permintaan yang meroket.
Menurut laporan dari International Data Corporation (IDC) pada pertengahan Desember 2025, kelangkaan RAM berpotensi menjadi masalah permanen di industri teknologi.
“Dalam kasus krisis memori yang akan datang, ini adalah sesuatu yang akan sangat memukul pasar, terutama bagi produsen ponsel yang bermain di segmen bawah, di mana margin sangat ketat,” ujar Nabila Popal, Senior Research Director IDC.
Ia melanjutkan, situasi tersebut membuat para vendor ponsel hampir tidak punya pilihan selain membebankan kenaikan harga kepada konsumen.
Seberapa mahal ponsel di 2026?
Berdasarkan laporan terbaru IDC, memori menyumbang 15-20% dari biaya material di segmen ponsel low-end.
Proporsinya lebih tinggi 5% daripada ponsel premium, karena sebanding dengan harga jualnya yang lebih mahal.
Maka dari itu, segmen ponsel low-end kemungkinan akan mengalami fluktuasi terbesar. Nabila memprediksi, harga ponsel di kategori ini akan melonjak sekitar 5-10%.
Baca juga: Spesifikasi dan Harga Vivo X300 Series di Indonesia
IDC juga membeberkan bahwa 51% smartphone yang dikirimkan pada kuartal ketiga (Q3) 2025 memiliki setidaknya 8GB RAM atau lebih.
Lalu, jumlahnya meningkat menjadi hampir 93% untuk ponsel yang harganya $400 ke atas.
“Smartphone kelas bawah dan menengah mungkin akan kembali ke konfigurasi 4GB untuk mempertahankan harga pasar di 2026,” kata Francisco Jeronimo, Vice President of Client Devices IDC.
Menurunkan spesifikasi RAM
Seiring dengan kenaikan harga serta kelangkaan memori, Francisco memprediksi bahwa produsen akan menurunkan spesifikasi RAM di ponsel low-end besutan mereka.
Setelah itu, penggunaan RAM 24GB di ponsel premium nampaknya sulit menjadi kenyataan pada tahun ini.
Jadi, rencana produsen untuk melengkapi ponsel premium dengan memori yang lebih besar dan peningkatan kinerja AI berpotensi terhambat.
Baca juga: Perangkat Xiaomi, Redmi, dan Poco Perpanjang Masa Update OS
Batas paling atas kapasitas RAM di ponsel premium setidaknya hanya 16GB pada 2026, demi melindungi margin dan menghindari kenaikan harga.
Tetapi, konsekuensinya adalah produsen harus berpikir lebih keras guna memberikan diferensiasi terhadap ponsel terbaru mereka.
Baik dari segi teknologi, fitur, desain, paket penjualan, dan sebagainya agar konsumen tetap terpanggil untuk meng-upgrade ponselnya.
Apabila tidak ada perbedaan atau inovasi yang signifikan, risiko penurunan jumlah penjualan bisa jadi muncul ke permukaan.
