Tiga Level AI dari yang Terendah sampai “Raja Terakhir”

Pada dasarnya, ada tiga level AI yang sekarang dikenal, salah satu yang sudah hadir di antara umat manusia adalah ANI.

AI adalah teknologi yang sedang berkembang pesat saat ini. Seiring dengan kemunculannya, para ilmuwan ternyata telah membagi level AI menjadi tiga jenis.

Mulai dari Artificial Narrow Intelligence (ANI), Artificial General Intelligence (AGI), sampai level AI tertinggi yang disebut Artificial SuperIntelligence (ASI).

Baca juga: Apa Itu AI Bubble yang Bikin Investor Ketar-ketir?

Ketiganya memiliki karakteristik dan kemampuan yang berbeda-beda. Namun, baru ANI yang sudah hadir di tengah-tengah manusia.

Sementara AGI dan ASI masih merupakan kondisi hipotesis di masa depan. Berikut penjelasannya.

1. Artificial Narrow Intelligence (ANI)

Pertama adalah ANI, yang sering disebut sebagai AI tingkat terendah atau teknologi “AI Sempit”. ANI merupakan level AI yang digunakan oleh manusia saat ini.

ANI unggul dalam tugas tertentu, seperti menerjemahkan bahasa, membuat naskah, dan menghasilkan gambar atau video.

Baca juga: Ponsel Pintar dengan Fitur AI Terbaik 2025 di Indonesia

Tetapi, pada tingkatan ini, AI tidak dapat mempelajari kemampuan baru atau mengembangkan pemahaman yang mendalam.

ANI hanya bergantung pada algoritma dan data yang telah diprogram sebelumnya. Lalu, membutuhkan intervensi manusia untuk beroperasi.

2. Artificial General Intelligence (AGI)

Level AI selanjutnya yaitu AGI, sistem kecerdasan buatan generasi berikutnya yang dapat memahami hal-hal baru di dunia.

AGI menerapkan kecerdasan pemecahan masalah secara luas dan fleksibel, layaknya manusia.

Maka dari itu, AGI sering didefinisikan sebagai sistem yang sangat otonom, serta dapat setara dengan manusia dalam sebagian besar pekerjaan yang bernilai ekonomis.

Baca juga: Gemini Deep Research Bisa Melihat Isi Gmail Pengguna?

AI yang juga dijuluki “Cawan Suci” oleh para ilmuwan ini mampu melakukan pembelajaran lintas domain dan penalaran membuat koneksi di berbagai bidang.

Sejumlah petinggi perusahaan global memprediksi AGI bisa hadir lebih cepat. Salah satunya adalah CEO Scale AI, Alexandr Wang.

Ia mengestimasikan AGI bisa hadir dalam 1-4 tahun ke depan, yakni antara 2027-2029.

3. Artificial SuperIntelligence (ASI)

Kemudian, “Raja terakhir” dari AI ialah ASI, yang berpotensi merevolusi berbagai aspek kehidupan manusia.

ASI adalah kecerdasan buatan super yang diibaratkan sanggup melewati batas kepintaran gabungan dari manusia paling jenius dalam aspek apapun, baik penalaran, kreativitas, hingga kecerdasan emosional.

Lalu, level AI tertinggi ini bekerja lewat basis perangkat lunak hipotesis dengan cakupan intelektual yang paling tinggi dibandingkan ANI dan AGI.

Secara teoritis, ASI merupakan bentuk AI yang paling canggih serta menjadi entitas yang bisa beroperasi di luar kendali manusia.

Menurut prediksi CEO OpenAI, Sam Altman, ASI akan meluncur di antara 2032-2035, tidak jauh setelah kehadiran AGI.

Pro-kontra level AI

Semakin meningkatnya kemampuan AI dalam menjalani tugas-tugas manusia menimbulkan pro dan kontra di kalangan penggiat teknologi.

Sebagian pendapat berpikir bahwa level AI tertinggi dapat membawa perubahan yang positif di masa depan.

Namun, beberapa di antaranya mengemukakan pendapat yang berbeda, khususnya terkait tentang keamanan data.

Oleh karena itu, para ilmuwan menekankan pentingnya perencanaan yang komprehensif sebelum era baru AI dimulai.

Jangan sampai kekuatan AI malah berdampak positif bagi kelangsungan peradaban manusia.


Diterbitkan

dalam

oleh