Apa Itu AI Bubble yang Bikin Investor Ketar-ketir?

Ketakutan investor terhadap AI Bubble sudah terasa dan diprediksi akan berdampak kepada bisnis di masa depan.

AI Bubble adalah fenomena yang mengacu pada pertumbuhan pesat pada permintaan dan penggunaan AI sampai melampaui kinerja atau nilai wajarnya. 

Saat ini, valuasi beberapa perusahaan AI bahkan mendekati valuasi pada masa booming dot-com (.com).

Lalu, harga sahamnya meningkat secara dramatis dalam waktu singkat dan perusahaan rela menghabiskan miliaran dolar untuk membangun pusat data serta pabrik microchip untuk mendukung AI.

Apabila “gelembung AI” pecah, maka akan sangat beresiko mengurangi keuntungan perusahaan di masa depan.

Baca juga: Rekrut Bos AI Baru, Apple Intelligence Salip Galaxy AI?

Maka dari itu, wajar para investor khawatir jika AI Bubble benar-benar terjadi dalam waktu dekat.

Tetapi, tantangannya adalah sulit untuk menentukan kapan gelembung itu akan pecah.

Salah satu cara untuk memprediksinya yaitu dengan menggunakan rasio harga terhadap pendapatan (rasio P/E).

Rasio P/E dihitung dengan membagi harga saham perusahaan dengan pendapatannya, atau berapa banyak uang yang dihasilkan perusahaan.

Semakin tinggi angkanya, semakin spekulatif pertaruhan investor terhadap pertumbuhan perusahaan yang substansial di masa depan.

Baca juga: Teknologi AI Bakal Bantu Inggris di Piala Dunia 2026

Misalnya Nvidia, yang sekarang menjadi perusahaan terbesar di S&P 500 dengan rasio P/E sekitar 45 dan perusahaan pertama yang mencapai nilai $5 triliun di pasar saham.

Kemudian, harga sahamnya ikut meningkat hingga 1.000 persen selama tiga tahun terakhir, dari $17 ke $180.

The New York Times menyebut kenaikan saham yang signifikan ini sebagai salah satu faktor yang memicu kekhawatiran investor.

Pasalnya, pasar hanya terkonsentrasi pada sebagian bisnis serta perusahaan raksasa.

Euforia AI

Setelah itu, euforia AI menyebabkan perusahaan-perusahaan yang tidak menguntungkan bisa mendapatkan pendanaan atau malah menggunakan hutang untuk mendanai investasi AI mereka.

Hal ini kemungkinan akan berdampak kepada aksi jual besar-besaran dari beberapa saham AI unggulan dan masuk ke area pasar lainnya.

Sejumlah perusahaan dikabarkan sudah terkena imbas dari euforia AI. Contohnya Oracle, yang bergantung pada pasar utang untuk pengembangan AI.

Baca juga: Celah Keamanan NASA Berhasil Ditembus Remaja Indonesia

Luke Yang, analyst di Morningstar, memperkirakan total utang Oracle dapat meningkat, dari $100 miliar di 2025 menjadi $300 miliar pada 2030 karena rencana AI perusahaan.

“Resiko yang sangat tinggi jika permintaan AI tidak terwujud seperti yang diharapkan orang sekarang,” jelas Luke.

Selain itu, perusahaan komputasi awan berbasis AI bernama CoreWeave telah mengalami penurunan saham sekitar 42 persen sejak Oktober 2025.

CoreWeave berharap kontrak besar dari perusahaan seperti Nvidia dan Microsoft, tetapi masih belum menghasilkan keuntungan serta ditambah beban hutang yang menggunung.

Alarm AI Bubble memang belum berbunyi nyaring pada tahun ini, tetapi prediksi terhadap ancaman tersebut mungkin bisa menjadi kenyataan.

Jangan sampai indeks harga saham menukik di masa depan imbas dari investasi yang berlebihan di bisnis AI.


Diterbitkan

dalam

oleh