One Piece Akan Menggunakan AI untuk Membuat Animasi?

Penerapan artificial intelligence (AI) di industri seni, misalnya di animasi One Piece, memicu perdebatan besar antar penggemarnya.

Kontroversi penggunaan AI pada animasi One Piece mencuat ke permukaan setelah Toei Animation, studio yang memproduksi anime karya Eiichiro Oda tersebut dikabarkan telah berinvestasi di Preferred Networks, Inc., sebuah perusahaan AI rintisan.

Penggunaan AI dalam seni merupakan topik yang hangat diperdebatkan belakangan ini.

Kampanye pemasaran film seperti Megalopolis dan Thunderbolts, atau acara TV seperti True Detective, dikecam karena menggunakan teknologi AI.

Begitu juga dengan studio anime seperti Toei Animation, yang sebelumnya juga telah sukses memproduksi Dragon Ball dan Sailor Moon.

Mengutip Dexerto, AI memang bagian dari rencana Toei Animation di masa depan. Hal ini terungkap dalam laporan keuangan mereka pada 31 Maret 2025.

Baca juga: 5 Generator AI Gratis untuk Mengubah Teks Menjadi Suara

“Dengan tujuan meluncurkan usaha patungan, kami akan berupaya mengembangkan peluang bisnis baru bersama dan meningkatkan efisiensi serta kualitas produksi kami, memanfaatkan sinergi antara AI dan teknologi produksi animasi,” demikian bunyi laporan tersebut.

Rencananya, AI akan diterapkan ke berbagai proses produksi anime, termasuk pembuatan storyboard, pewarnaan dan spesifikasi warna, inbetweening, serta pembuatan latar belakang. 

Namun, laporan keuangan itu tidak merinci kapan dan di serial anime apa Toei Animation akan menggunakan teknologi AI.

Baca juga: Alasan Translator Butuh AI untuk Translate Bahasa dan Teks

Animator One Piece, Vincent Chansard, juga belum bisa memastikan kabar penggunaan AI pada anime besutannya tersebut.

“Saya telah berbicara dengan semua orang yang saya kenal tentang hal ini (AI), tetapi sepertinya semua orang sama bingungnya dengan saya,” ujarnya.

Keadaan ini tentunya semakin memicu perdebatan besar antar penggemar, apalagi jika AI diimplementasikan ke dalam anime One Piece.

Studio produksi kekurangan animator handal

Tetapi, apabila dilihat dari sisi industri, penggunaan AI mungkin membantu meringankan beban dan tugas animator.

Menurut informasi yang ada, masalah utama di industri anime saat ini adalah kurangnya tenaga kerja animator yang handal.

Studio-studio di seluruh Jepang kesulitan merekrut atau mempertahankan sebagian animator.

Pasalnya, tuntutan pekerjaan seringkali lebih besar daripada manfaatnya. 

Banyak animator bekerja sebagai pekerja lepas dengan jaminan kerja yang minim.

Belum lagi bila menghadapi tenggat waktu yang ketat, jam kerja panjang, dan gaji yang rendah.

Meskipun anime sukses secara global, animator pemula di Jepang seringkali dibayar di bawah upah minimum.

Bahkan, Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis sebuah laporan pada tahun 2024.

Baca juga: Alat AI Selain ChatGPT yang Mampu Membuat Jurnal Akademis

Laporan itu secara langsung mengecam praktik-praktik perburuhan eksploitatif di sektor animasi, serta menekankan dampaknya terhadap kesehatan mental dan fisik pekerja.

Masih mengutip Dexerto, salah satu masalah yang menjadi sorotan PBB adalah gaji awal tahunan animator yang hanya 1,5 juta yen (sekitar Rp163,7 juta berdasarkan kurs saat ini, 5/8/2025).

Maka dari itu, laporan PBB mendesak studio-studio Jepang untuk meningkatkan kondisi kerja, menawarkan upah yang adil, dan mengurangi ketergantungan pada pekerja lepas yang dibayar rendah atau bekerja berlebihan.

AI butuh waktu lama untuk jadi kekuatan utama

Kemungkinan, masalah tersebut menjadi pemicu studio-studio produksi untuk menggunakan AI di industri anime.

AI mungkin mengubah banyak hal di dunia animasi, tetapi pastinya akan butuh waktu lama sebelum menjadi kekuatan utama dalam produksi jangka panjang seperti One Piece.

Pada akhirnya, perdebatan bukan hanya tentang AI versus seni, melainkan tujuan dari pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan tersebut.

Apakah untuk mengurangi tekanan para animator dan meningkatkan kondisi kerja, atau mengeksploitasi teknologi untuk memangkas biaya dengan mengorbankan bakat dan kreativitas.


Diterbitkan

dalam

oleh